Skip to content

Meningkatkan Produktivitas Ayam Petelur, Sebuah Uji Coba

20 Februari 2013

Akhirnya, dengan berat ringan hati,  saya membeli 64 ekor ayam petelur yang dijual berikut kandang-kandangnya.  Menurut pemilik sebelumnya, kurang terurus.  Hasil telur hariannya antara 20-25, kadang bisa sampai 30-35 telur.  Singkat kata, kalau info ini dianggap benar, maka rata-rata hariannya hanya 25 telur dari 64 ekor, atau hampir 40% saja.  Umur ayam, katanya waktu beli 6 bulan lalu, sudah bertelur sekitar 3 bulan.  Jadi, kurang lebih umur ayam 6 bulan (masa mulai bertelur) + 3 bulan + 6 bulan dibeli oleh pemilik kedua.  Jadi umur ayam sekitar 15 bulan.  Sedang aktifnya berproduksi.  Tapi, saya lihat beberapa ayam sudah mulai trondol bulu-bulunya, jenggernya juga sudah pada melipat.

Tak begitu paham berapa umur ayam begini, tapi perkiraan sederhananya, ya sekitar 18 bulananlah. Bisa dimaklumi, kalau si penjual mengurang-ngurangi umur ayam, biar harganya bisa oke.  Seminggu pertama bertelur.  Hari pertama dapat 9 telur, hari ke dua 18, hari ke tiga 22 hari ke empat 25 hari ke lima 23 hari ke tujuh 22.  Jadi memang sekitar itulah produktivitas ayam petelur ini.

Mencampur pakan pabrik.

Pakan layer yang dibeli dengan harga 236 ribu per karung isi 50 kg,  dan kebutuhan ayam 64 ekor x 150 gram = 9,6 kg x 4800,= Rp 45 ribu.  Dengan hasil 25 telur, maka bisa dipastikan setiap hari tekor 20 ribu.   Jelas ini bukan hal yang baik untuk peternak, apalagi pemula seperti saya ini.

Berbekal tanpa bekal, saya mulai mencampur 3-5 kg pakan pabrik (layer P2) dengan 7 Kg dedak, 5 Kg kulit kacang ijo yang dikeringkan, 2 Kg limbah kepala tongkol, 2 Kg jagung, obat perangsang telur dan premix, serta ditambahkan probiotik yang dikenal pula sebagai mol (microorganisme lokal) yang dibuat sendiri yang ilmunya didapat dari link ini.

Untuk mengurangi bau kotoran ternak, pada pakan saya tambahkan kunyit kira-kira 150 gram.  Jadi selain ditambahkan pada pakan, juga ditambahkan pula pada minuman ayam.

Semua pencampuran ini, tidak menggunakan analisis yang tepat, hanya main kira-kira saja.  Dengan demikian biaya pakan yang dibebankan menjadi sekitar 30 ribu per hari.  Jika produktifitas masih di bawah 30 telur per hari, jelas masih rugi.

Mengurangi ayam yang tidak produktif.

Meskipun sudah memberikan peringatan kepada ayam-ayam petelur nyaris apkir ini untuk segera memperbaiki kinerjanya, namun tetap saja dalam minggu pertama hasilnya kurang dari 25 telur.  Sampai peringatan ke tiga tidak juga diindahkan, maka pada hari ke 12, saya memutuskan untuk melego 15 ekor ayam, sehingga bersisa tinggal 49 ekor ayam petelur.

Ke 15 ekor yang tidak produktif ini, kemudian dijual rugi dengan harga Rp 35 ribu/ekor. Sisanya, dinilai masih bisa diharapkan.

Produktifitas Meningkat.

Karena 15 ekor yang kena pinalti ini, bisa jadi sisa 49 ekor ayam ini mulai menunjukkan kesadarannya.  Berturut-turut terjadi penambahan jumlah bertelur sehingga mencapai 30 telur per hari, kemudian meningkat terus dan relatif stabil di angka 36-40 telur per hari.  Bahkan sempat pada satu hari mencapai angka 44 telur per hari (atau produktifitas hampir 90%).  Rata-rata harian kemudian setelah 20 hari dipelihara rata-rata keproduktifitasannya mencapai 75-80%.  Saya kira angka ini tidak terlalu buruk dan sudah melewati biaya pakan yang seharinya sekitar 25-30 ribu/hari.  Pakan pabrik kadang saya tambahkan kadang tidak.

Selama masa ujicoba pemeliharaan ini, dijumpai beberapa hal yang menarik :

  • Ayam dikandangkan menggunakan kandang batterai yang disusun vertikal 4 tingkat  (untuk menghemat tempat), jadi tidak berbentuk V seperti umumnya kandang baterai.    Setiap hari saya cek, telur datang dari ayam di kandang mana.  Hasilnya, cukup mengejutkan.  Sewaktu jumlah ayam 64 ekor, produktifitas total dari lantai kandang 1 (bawah) dihitung ada 56 telur, berikutnya lantai kedua ada 65 telur, berikutnya lantai ketiga 75 telur dan lantai ke empat (paling atas) ada 86 telur.   Tinggi tiap lantai kandang sekitar 35 cm.  Kesimpulannya, makin tinggi posisi lantai, makin produktif.
  • Saya rutin memberikan minuman probiotik dan bubuk kunyit, serta ditambah perangsang telur pada minuman (kadang juga dicampurkan ke pakan).  Hasilnya, kotoran relatif tidak berbau.  Bahkan ketika 15 ekor yang diapkir itu disembelih, tele dan isi ususnya pun relatif tidak berbau.  Bau kotoran terasa hanya pada jarak 10 cm saja, ketika hidung didekatkan pada kotoran.
  • Oleh karena kadang pencampuran dengan mol dan limbah pasar yang dibeli masih basah, maka kadang campuran pakan yang diberikan berada dalam kondisi tidak kering.  Akibatnya ternyata buruk : kotoran ayam cenderung encer.  Penambahan sedikit karbon aktif  (pasir aktif, arang tempurung kelapa) ternyata membuat feces ayam tidak lagi encer.

Meskipun uji coba ini tidak begitu valid caranya dan cenderung acak-acakan, namun dengan angka ke produktifan bertelur sebesar 75%, saya nilai sendiri, percobaan ini masih bisa memberikan pendapatan, setidaknya 12-15 telur per hati.  Lumayanlah, meskpun belum maksimal…..

From → Ayam, Limbah Pasar

23 Komentar
  1. adnan_bmb permalink

    kira2 untk pemula.. modal total awal yg harus dikeluarkan untuk ayam dg jumlah 50 ekor brpa ya ???

    • adji permalink

      Pullet ayam (siap telur) berkisar Rp 70-90 ribu. Tergantung negosiasi juga. Jadi, 50 ekor hampir Rp 4 jutaan…. Kalau mengurus dari DOC, butuh waktu 5-6 bulan untuk mulai bertelur. Biaya perbesaran sampai pullet, kurang lebih 80 gram kali 150 hari = sekitar 12 kg kali harga pakan 5500, maka setidaknya butuh 60 – 70 ribu untuk pakan, tambah harga DOC 7500,-. Mungkin pakan bisa lebih dihemat, tapi tidak banyak bedanya. Jumlah sedikit memang sulit mencapai nilai ekonomisnya. Namun, jika bisa memanfaatkan pakan yang murah, tentu saja bisa lebih menjanjikan….

  2. mantapppp. tapi memang kalau harga telur sedang naik gini untung usaha telur banyak juga pak….

  3. saya izin copy untuk tugas saya yaah :)

  4. obat perangsang telur nya merk apa gan ? &hrganya brpa?

    • adji permalink

      Saya hanya pakai eggtimulant buatan Medion. Harganya 10 ribuan per 100 gram. Lumayan mahal juga. Cara pemakaian ada pada sachet petunjuk. Kalau diperhatikan isinya, tidak ada yang istimewa, vitamin, mineral, dan fosfor dan komponen lainnya yang memang diperlukan untuk pertumbuhan. Komponen yang jadi adalah tampaknya Bacitracin, sejenis antibiotik yang biasa digunakan untuk merangsang pertumbuhan. Ada berbagai varian yang saya tidak tahu juga asal muasalnya. Misalnya Zinc Bacitracin, Bacitracin MD, dan entah apalagi. Pada premix atau top mix buatan Medion juga ada Bacitracinnya. Jadi, sebenarnya egg stimulant dan premix/top mix hampir setali tiga uang. Saya lebih melihat perbedaan hanya pada merk dan sebutan (lebih bersifat pendekatan marketing). Pada pakan PY3 (Global) atau Cargil juga memasukkan Bacitracin sebagai salah satu komponen antibiotik (yang dibeberapa negara dilarang) sebagai komponen penambah untuk mendorong pertumbuhan atau untuk meningkatkan daya peneluran. Jadi, perhatikan kemasan yang kita beli dan perhatikan hasil. Jika hasilnya sudah cukup baik, tidak perlu ditambahkan lagi egg stimulant. Jika campuran pakan kita kurang mutunya dan mempengaruhi jumlah produksi, pertimbangkan untuk ditambah premix/to mix. Jika produksinya cukup baik, tapi telurnya banyak pecah atau terlalu kecil, tambah kalsium melalui tambahan grit. Tapi, jika usianya sudah lewat masa produksi, tidak ada salahnya diapkir saja. Sebulan ini, saya mengganti pakan untuk petelur dengan pakan ayam buras saja yang harganya berkisar sekitar 160-170 ribu per karung, lalu saya tambah grit, tambah premix dua kali kebutuhan normal yang tertera pada kemasan. Dengan komposisi ini, harga pakan menjadi sekitar Rp 3800 per kg tapi saya tidak cape lagi membuat pakan sendiri. Hasilnya, so so. Tidak ada perubahan berarti dengan pakan sebelumnya. Jadi oke saja.

  5. Articlenya bagus sekali, semoga dengan ini bisa bermanfaat buat peternak peternak lainnya. Kami menyediakan probiotik yang dapat membantu penyerapan nutrisi sekaligus menghidupkan plankton dan zooplankton di kolam, 081 226 339 79

    http://jualprobiotikternak.wordpress.com/probiotik_lele/

    http://probiotikpakanternak.wordpress.com/jual_obat-_ternak/

  6. Artikelnya sangat menarik… Mudah2an bermanfaat bagi calon pebisnis muda Indonesia>>
    Bagi yang berminat berinvestasi yang terpercaya dalam bisnis ayam petelur silakan menghubungi website kami..

  7. ari permalink

    Artikel yg bagus…….bisa minta no hp umtuk konsultasi gan?

    • adji permalink

      Bagaimana kalau kita berdiskusi di sini Bu Ari. Tentu ada pakar yang akan mau mendistribusikan pengetahuan mumpuninya. Saya percaya, begitu banyak ahli yang jauh di atas saya yang bersedia berbagi….

  8. saya tertarik untuk budidaya ayam petelur,namun melihat apa yg telah sdr uraikan diatas,seperti saat pertama sdr memulai usaha tsb yg menyatakan kalau produksi telur hy 40%,smentr biayah yg di keluarkan lbh dr hasil yg di dpt,mk sy agak kebingungan,,bgmn si para pengusaha yg lain bs dpt untung?dan bagaimn kiat kita untuk mengatasi agr usaha yg kt tekuni dpt berhasil?apaka kt hrs mulai dg membeli bibit yg unggul?

    • adji permalink

      Benar Mas Tatang, mulailah dengan kandang yang sederhana saja, jangan serba wah. Biasa-biasa, tapi memenuhi syarat. Datangilah peternak yang sudah kampiun di bidangnya. Lihat caranya memelihara, bagaimana memanajemeni usahanya. Mintalah advis ciri-ciri ayam yang sehat dan produktifitas tinggi, berkualitas tinggi (walaupun harganya mahal). Jangan pilih bibit yang asal-asalan, murah, tapi kemudian hasilnya meragukan. Pilihlah semua yang kualitas terbaik. Demikian juga pakannya, pilih yang berkualitas, biarpun mahal. Mulailah dari jumlah tidak signifikan, tapi investasi tercukupi. Kalau mampunya 100, jangan mulai dari 150. Pelajari dengan seksama semua yang berkualitas untuk menghasilkan produktifitas yang berkualitas pula. Bisa jadi, karena skala ekonominya belum terpenuhi, tidak menguntungkan (baca : belum menguntungkan), tetapi dari situ kita bisa belajar banyak lika-likunya. Learning by doing mulai dari produk berkualitas, jauh lebih menjanjikan dari pada produk murah, pakan murah, dan peluang untuk hancur lebur, gigit jari lebih besar. Perhatikan dengan seksama semua pengetahuan yang berhubungan dengan kesehatan ternak. Setelah itu terasa cukup, baru langkah berikutnya mulai dengan upaya-upaya standar untuk mencari produk yang lebih murah, pakan yang lebih murah, dll. Itu akan terjadi sambil berjalan. Tetapi, mulai dari bahan yang tidak memadai (doc murah, kualitas tidak jelas) lebih akan menjerumuskan usaha ketika akan dimulai…..

  9. sangat menarik artikelnya mas bro,jd ingat dulu untuk meningkatkan produktivitas telor saya hunting ke pasar nyari sisa-2 ikan asin ,sy tambahkan jg (empok) semacam tepung jagung,hasilnya alhamdulillah ,untuk mengurangi biaya pakan dr pabrik,sek.krn keterbatasan lahan mulai lagi berternak tp skala amatiran,sekedar hobbi.

  10. sgg permalink

    Istimwa.ane mau usaha ptelur jg ni om, modal kira2 6jt uda jalan blum y om? Kandang uda ada. Tp cuma siap huni kra2.100kor. Masih bingung makanan dan perawatan. Maklum awam. Ujin copy jg buat refrnsi ane y om.

  11. terima kasih buat infonya

  12. ass. infox sungguh menarik. saya juga bru memulai usaha ayam petelur ini. saya memulai dengan ayam pullet usia 14 minggu dengan jumlah 500 ekor. menurut kawan2 apa2 saja yang perlu saya perhatihan untuk kedepannya. mari berbagi ilmu.. terima kasih …

  13. terimakasih artikelnya pak,,,ini info yg penting bgi sy mngingat sy jg ingn trjun k dunia pternakan .

  14. kalau untuk DOC ayam petelur ( ayam arab) menggunakan pakan apa ya sekiranya kalau sudh pullet bs brproduksi mksimal ??
    mhon d balas gan

  15. Pakan berpengaruh besar terhadap peningkatan produktivitas ayam petelur..

  16. kevin permalink

    haloo

    • kevin permalink

      Mohon petunjuk saya masih bingung mengenai pemberian ransum, dari jagung giling, dedak, dan konsentrat mana yang lebih banyak yah?

Trackbacks & Pingbacks

  1. Bau dan Warna Pakan, Cermin Kualitas !. « Limbah dan Ternak
  2. Membuat Pakan Ayam Petelur Sendiri | Puyuh dan Kefir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.